Dalam industri pertambangan, perusahaan harus menjadikan aspek keselamatan sebagai prioritas utama. Keselamatan pertambangan mencakup aspek teknis dan nonteknis. Perusahaan perlu mencegah risiko berbahaya dengan memastikan operasional tambang berjalan sesuai standar serta mematuhi seluruh peraturan keselamatan kerja yang berlaku.
Selain itu, perusahaan harus menyusun dan menerapkan prosedur kerja yang terdokumentasi dengan baik agar operasional tambang berjalan aman dan mampu mencegah kecelakaan kerja. Tidak hanya faktor teknis, faktor nonteknis juga dapat memengaruhi kinerja operasional, salah satunya adalah komunikasi.
Komunikasi memegang peran penting dalam penerapan keselamatan pertambangan karena memengaruhi hubungan dan koordinasi seluruh pihak di perusahaan. Komunikasi dapat menjadi hambatan apabila perusahaan tidak menyampaikan informasi keselamatan secara jelas, tepat, dan mudah dipahami oleh seluruh pekerja.
Hambatan Utama dalam Komunikasi Penerapan Keselamatan Pertambangan
Tugas dan tanggung jawab keselamatan kerja di pertambangan tidak hanya berada pada pekerja lapangan yang menjalankan operasional tambang, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif manajemen perusahaan, terutama dalam aspek komunikasi.
Komunikasi yang tidak efektif dapat terjadi ketika perusahaan menyampaikan pesan keselamatan menggunakan istilah teknis tanpa memastikan pemahaman tenaga kerja di lapangan. Kondisi ini menyebabkan informasi keselamatan kerja tidak terserap secara optimal.
Selain itu, perusahaan sering mengabaikan perbedaan latar belakang pendidikan dan budaya pekerja, yang pada akhirnya menurunkan efektivitas komunikasi dalam penerapan keselamatan pertambangan di lingkungan kerja. Oleh karena itu, pembahasan selanjutnya akan menguraikan tiga hambatan utama dalam komunikasi pada penerapan keselamatan pertambangan, yaitu sebagai berikut.
1. Hambatan Teknis dan Lingkungan (Fisik)
Salah satu hambatan yang memengaruhi efektivitas penerapan keselamatan pertambangan, khususnya di area operasional, adalah hambatan teknis dan lingkungan. Kondisi geografis tambang yang berisiko tinggi dan memiliki tingkat kompleksitas tinggi sering menghambat penyampaian informasi keselamatan secara cepat dan akurat.
Selain itu, perusahaan harus menghadapi tantangan teknis akibat keterbatasan infrastruktur di lingkungan kerja yang ekstrem. Kondisi tersebut dapat menurunkan kualitas komunikasi keselamatan antar tenaga kerja selama kegiatan operasional berlangsung. Beberapa bentuk hambatan teknis dan lingkungan yang dapat terjadi antara lain sebagai berikut:
Keterbatasan Sinyal
Keterbatasan sinyal komunikasi sering menghambat pertukaran informasi keselamatan antara pengawas dan pekerja di lapangan. Luasnya area tambang menyebabkan sinyal radio atau jaringan nirkabel menjadi tidak stabil, sehingga pekerja mengalami kesulitan dalam menerima instruksi dan informasi keselamatan. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya potensi bahaya di area operasional.
Gangguan Elektromagnetik
Gangguan elektromagnetik yang berasal dari penggunaan alat berat dan peralatan listrik berdaya tinggi dapat menurunkan kualitas komunikasi keselamatan. Pengoperasian mesin tambang secara bersamaan sering mengganggu sinyal radio komunikasi, sehingga mengurangi efektivitas sistem komunikasi di area kerja.
Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan yang sulit diprediksi, seperti hujan lebat, kabut, dan longsor, secara langsung menghambat proses komunikasi keselamatan di area tambang. Kondisi tersebut sering menyulitkan pekerja dalam mendengar instruksi lisan maupun membaca tanda peringatan, sehingga menurunkan efektivitas penerapan keselamatan kerja.
Degradasi Peralatan
Degradasi peralatan komunikasi akibat penggunaan intensif dan paparan lingkungan tambang menjadi hambatan serius dalam penyampaian pesan keselamatan. Perusahaan sering menghadapi penurunan fungsi radio, headset, atau perangkat komunikasi lainnya dan hal tersebut dapat berakibat risiko kegagalan komunikasi keselamatan akan meningkat.
2. Hambatan Manusia dan Perilaku
Hambatan utama dalam komunikasi penerapan keselamatan pertambangan tidak hanya berasal dari masalah teknis, tetapi juga dari faktor non teknis berupa hambatan manusia dan perilaku. Pengelolaan sumber daya manusia menjadi tantangan bagi perusahaan, khususnya dalam menyampaikan dan menerapkan komunikasi keselamatan kerja di lingkungan pertambangan.
Ketika perusahaan tidak mengelola faktor manusia secara sistematis, komunikasi keselamatan menjadi tidak efektif meskipun prosedur dan sarana pendukung telah tersedia. Oleh karena itu, pembahasan selanjutnya akan menguraikan beberapa hambatan manusia dan perilaku dalam komunikasi keselamatan pertambangan, antara lain sebagai berikut:
Budaya Diam
Perilaku tenaga kerja di lingkungan pertambangan sangat beragam. Namun, dalam konteks perilaku yang berpotensi membahayakan keselamatan kerja, budaya diam menjadi hambatan penting yang perlu diatasi oleh perusahaan. Sikap ini menghambat aliran informasi keselamatan dan secara langsung meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan kerja.
Kelelahan dan Tekanan Psikologis
Kelelahan fisik dan tekanan psikologis secara langsung menurunkan kemampuan pekerja dalam menerima dan menyampaikan informasi keselamatan. Kondisi ini membuat pekerja lebih mudah mengabaikan pesan keselamatan atau salah memahami instruksi yang disampaikan.
Kurangnya Pemahaman Prosedur
Kurangnya pemahaman terhadap prosedur keselamatan menyebabkan pekerja tidak mampu menerapkan komunikasi keselamatan secara benar. Perusahaan sering menyampaikan prosedur tanpa memastikan bahwa tenaga kerja melaksanakan pekerjaan sesuai aturan yang ditetapkan, sehingga pekerja cenderung bekerja berdasarkan kebiasaan, bukan standar keselamatan yang berlaku.
Kepercayaan Diri Berlebihan
Selain sikap diam, kepercayaan diri yang berlebihan juga menjadi hambatan dalam komunikasi keselamatan. Sikap ini mendorong pekerja meremehkan risiko dan mengabaikan pesan keselamatan. Pekerja yang terlalu percaya diri dan tidak mau mendengarkan masukan dari pihak lain dapat melemahkan tingkat kewaspadaan di lingkungan pertambangan.
3. Hambatan Organisasi dan Prosedural
Hambatan organisasi dan prosedural muncul ketika perusahaan tidak mengelola sistem komunikasi keselamatan secara terstruktur dan berkelanjutan. Ketiadaan mekanisme komunikasi yang efektif dalam organisasi dapat menyebabkan pesan keselamatan terganggu dan tidak tersampaikan secara optimal.
Selain itu, dinamika operasional tambang yang kompleks menjadi tantangan bagi perusahaan dalam menyesuaikan prosedur komunikasi keselamatan. Kondisi ini dapat memunculkan potensi kesalahan dalam penyampaian informasi dan meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan kerja. Oleh karena itu, pembahasan selanjutnya akan menguraikan beberapa hambatan organisasi dan prosedural dalam komunikasi keselamatan pertambangan, antara lain sebagai berikut:
Kesenjangan Bahasa dan Budaya
Kesenjangan bahasa dan budaya menghambat pemahaman pesan keselamatan di lingkungan pertambangan yang multikultural. Ketika perusahaan menggunakan bahasa dan pendekatan yang tidak sepenuhnya dipahami oleh tenaga kerja, perbedaan interpretasi terhadap instruksi keselamatan pun muncul dan menurunkan efektivitas penerapannya di lapangan.
Tidak Ada Umpan Balik
Tidak adanya mekanisme umpan balik menyebabkan komunikasi keselamatan berjalan satu arah dan tidak responsif. Pekerja tidak memiliki saluran yang aman dan jelas untuk menyampaikan informasi kepada manajemen, sehingga perusahaan kehilangan informasi penting dari lapangan yang diperlukan untuk melakukan perbaikan keselamatan secara berkelanjutan.
Kurangnya Informasi Terbarui
Perusahaan perlu memperbarui informasi keselamatan secara konsisten. Penggunaan informasi keselamatan yang tidak mutakhir dapat menyebabkan tenaga kerja melakukan tindakan kerja yang tidak sesuai dengan kondisi dan situasi operasional terkini.
Perbedaan Sudut Pandang Hirarki
Perbedaan sudut pandang antara manajemen dan pekerja lapangan sering menimbulkan kesenjangan dalam komunikasi keselamatan. Ketika perusahaan tidak berupaya menjembatani perbedaan tersebut, komunikasi keselamatan menjadi tidak efektif dan berpotensi menimbulkan konflik pemahaman di lingkungan kerja.
Dampak dari Hambatan Komunikasi
Komunikasi memiliki pengaruh langsung terhadap penerapan keselamatan pertambangan, baik pada tingkat keselamatan kerja, efisiensi operasional, maupun keberlanjutan perusahaan. Hambatan komunikasi dapat melemahkan upaya pencegahan risiko dan meningkatkan potensi terjadinya kecelakaan kerja.
Lingkungan kerja pertambangan yang kompleks menuntut koordinasi yang baik antarindividu dan antarbagian dalam organisasi. Perusahaan perlu memastikan komunikasi berjalan efektif agar seluruh informasi keselamatan tersampaikan dengan jelas.
Kemudian komunikasi yang tidak optimal dapat menimbulkan perbedaan pemahaman terhadap instruksi kerja, kondisi lapangan, serta pengendalian risiko. Oleh karena itu, pembahasan selanjutnya akan menguraikan dampak yang ditimbulkan oleh hambatan komunikasi terhadap keselamatan pertambangan, sebagai berikut:
1. Meningkatnya Risiko Kecelakaan Kerja
Hambatan komunikasi menyebabkan pekerja tidak menerima informasi bahaya dan instruksi keselamatan secara lengkap. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja di lingkungan pertambangan.
Selain itu, komunikasi yang tidak efektif menghambat respons terhadap situasi darurat. Tenaga kerja terlambat menyampaikan peringatan atau laporan bahaya, sehingga perusahaan kehilangan kesempatan untuk mencegah insiden sebelum berkembang menjadi kecelakaan yang lebih serius.
2. Keterlambatan Operasi dan Peningkatan Biaya
Operasional tambang harus berjalan secara efektif dan efisien. Namun, hambatan komunikasi dapat menimbulkan kesalahan koordinasi dalam pelaksanaan pekerjaan tambang. Kondisi ini memicu pengulangan pekerjaan hingga penghentian sementara operasi.
Penghentian operasional sementara tersebut menyebabkan perusahaan menghadapi peningkatan biaya akibat keterlambatan operasi, kecelakaan kerja, dan gangguan aktivitas produksi. Oleh karena itu, komunikasi keselamatan yang tidak optimal dapat menimbulkan beban finansial yang signifikan bagi perusahaan.
3. Kegagalan dalam Manajemen Risiko
Hambatan komunikasi melemahkan proses identifikasi dan pengendalian risiko di lingkungan pertambangan. Informasi mengenai potensi bahaya yang tidak tersampaikan kepada pihak berwenang menyebabkan perusahaan tidak mampu menyusun langkah mitigasi risiko secara tepat dan menyeluruh.
Selain itu, kegagalan komunikasi menghambat proses evaluasi dan perbaikan berkelanjutan dalam manajemen risiko. Perusahaan kehilangan informasi penting dari insiden kecelakaan kerja yang terjadi, sehingga sistem manajemen keselamatan tidak berkembang dan tetap rentan terhadap risiko yang berulang.
Apa yang Harus Dilakukan?
Untuk mengatasi hambatan komunikasi dalam penerapan keselamatan pertambangan, perusahaan perlu menerapkan langkah perbaikan secara sistematis dan berkelanjutan. Perusahaan tidak cukup hanya mengidentifikasi permasalahan, tetapi harus secara aktif menyesuaikan kebijakan, prosedur, dan praktik komunikasi agar selaras dengan kondisi kerja di lapangan.
Tindakan perbaikan yang tepat akan memperkuat pemahaman pekerja terhadap risiko serta meningkatkan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan. Perusahaan juga harus memastikan bahwa setiap upaya perbaikan komunikasi melibatkan seluruh tingkatan organisasi. Oleh karena itu, pembahasan selanjutnya akan menguraikan beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk menghadapi hambatan komunikasi dalam penerapan keselamatan pertambangan sebagai berikut:
1. Revisi SOP dan Protokol Komunikasi
Keamanan operasional kerja pertambangan sangat dipengaruhi oleh penerapan SOP dan protokol komunikasi. Perusahaan perlu merevisi SOP dan protokol komunikasi keselamatan agar lebih jelas, ringkas, dan mudah dipahami oleh seluruh pekerja.
Revisi SOP harus menyesuaikan kebutuhan operasional aktual serta potensi risiko yang dihadapi di lapangan. Perusahaan juga perlu memastikan bahwa setiap perubahan SOP tersampaikan dengan baik kepada tenaga kerja, sehingga meningkatkan tingkat kepatuhan dan efektivitas komunikasi keselamatan.
2. Implementasi Teknologi Komunikasi
Perusahaan perlu mengimplementasikan teknologi komunikasi yang andal untuk mendukung penyampaian informasi keselamatan secara cepat dan akurat. Penggunaan radio komunikasi, sistem peringatan dini, serta aplikasi digital dapat membantu menjangkau pekerja di area tambang yang luas dan terpencil.
Penerapan teknologi yang tepat dapat mengurangi risiko keterlambatan penyampaian informasi keselamatan. Oleh karena itu, perusahaan harus memastikan bahwa tenaga kerja dapat menggunakan teknologi tersebut secara optimal agar memberikan manfaat maksimal bagi komunikasi keselamatan.
3. Penyelenggaraan Pelatihan dan Simulasi
Pelatihan keselamatan harus menekankan aspek komunikasi yang efektif dalam menghadapi risiko kerja. Perusahaan perlu melatih pekerja agar mampu menyampaikan informasi penting, baik dalam melaporkan kondisi berbahaya maupun dalam merespons potensi risiko.
Selain pelatihan, perusahaan juga perlu menyelenggarakan simulasi situasi darurat secara berkala. Simulasi ini memungkinkan pekerja mempraktikkan komunikasi keselamatan dalam kondisi mendekati situasi nyata, sekaligus membantu perusahaan mengevaluasi efektivitas sistem komunikasi yang diterapkan.
4. Membangun Budaya Komunikasi Terbuka
Perusahaan harus membangun budaya komunikasi terbuka agar pekerja merasa aman dalam menyampaikan pendapat dan melaporkan potensi bahaya. Manajemen dan pengawas perlu menunjukkan sikap terbuka serta responsif terhadap setiap masukan dari pekerja.
Lingkungan kerja yang mendukung keterbukaan akan memperlancar arus informasi keselamatan. Penerapan budaya komunikasi terbuka menjadi fondasi penting bagi terciptanya keselamatan kerja yang berkelanjutan di lingkungan pertambangan.
5. Klarifikasi dan Konfirmasi Pesan
Perusahaan perlu menerapkan praktik klarifikasi dan konfirmasi pesan dalam setiap komunikasi keselamatan. Pengawas harus memastikan bahwa pekerja memahami instruksi yang diberikan sebelum pekerjaan dimulai.
Langkah ini dapat mencegah kesalahpahaman yang berujung pada tindakan kerja tidak aman. Selain itu, perusahaan perlu mendorong pekerja untuk aktif mengajukan pertanyaan ketika menemukan ketidakjelasan. Praktik ini menjadi sangat penting dalam lingkungan kerja berisiko tinggi seperti pertambangan.
6. Visualisasi Informasi
Salah satu cara menyampaikan informasi secara efektif adalah melalui visualisasi. Oleh karena itu, perusahaan perlu memanfaatkan visualisasi informasi untuk memperkuat penyampaian pesan keselamatan. Penggunaan rambu, poster, peta risiko, dan simbol keselamatan membantu pekerja memahami potensi bahaya secara cepat dan intuitif.
Visualisasi yang efektif dapat menjangkau pekerja dengan latar belakang bahasa dan tingkat pendidikan yang beragam. Pendekatan ini juga memperkuat komunikasi keselamatan sebagai bagian dari aktivitas kerja sehari-hari di lingkungan pertambangan.
Bagaimana Sertifikasi POP Energy Academy dapat Memfasilitasi Hal Ini
Sertifikasikasi POP Energy Academy membekali Pengawas Operasional Pertama dengan kompetensi komunikasi keselamatan untuk mengatasi hambatan penyampaian informasi di lingkungan pertambangan. Melalui pelatihan terstruktur, peserta memahami peran POP dalam memastikan pesan keselamatan tersampaikan secara jelas, dipahami dengan benar, dan diterapkan sesuai prosedur di lapangan.
Selain itu, Sertifikasi POP Energy Academy menekankan praktik pengawasan yang proaktif dan berbasis manajemen risiko. Peserta dilatih untuk membangun komunikasi dua arah, memberikan umpan balik, serta memperkuat budaya keselamatan. Pendekatan ini membantu POP menjaga keselamatan kerja sekaligus mendukung kelancaran operasional tambang.
FAQ
Mengapa komunikasi menjadi faktor penting dalam keselamatan pertambangan?
Komunikasi berperan langsung dalam menyampaikan informasi bahaya, instruksi kerja, dan pengendalian risiko. Komunikasi yang tidak efektif dapat menyebabkan kesalahpahaman, tindakan kerja tidak aman, dan meningkatnya risiko kecelakaan.
Apa saja jenis hambatan komunikasi dalam keselamatan pertambangan?
Hambatan komunikasi dalam keselamatan pertambangan meliputi hambatan teknis dan lingkungan, hambatan manusia dan perilaku, serta hambatan organisasi dan prosedural.
Apa langkah utama perusahaan untuk mengatasi hambatan komunikasi keselamatan?
Perusahaan perlu memperbaiki SOP, menerapkan teknologi komunikasi yang andal, menyelenggarakan pelatihan dan simulasi, membangun budaya komunikasi terbuka, menerapkan klarifikasi pesan, serta memanfaatkan visualisasi informasi keselamatan.







