Perusahaan perlu memahami indikator kinerja utama (Key Performance Indicator/KPI) dalam menerapkan keselamatan pertambangan pada operasional kerja. Dengan memahami KPI secara tepat, perusahaan dapat menjalankan sistem keselamatan pertambangan secara optimal serta memastikan bahwa investasi keselamatan memberikan manfaat yang nyata dan menguntungkan.
Perusahaan harus merencanakan investasi keselamatan pertambangan secara matang. Oleh karena itu, KPI keselamatan menjadi komponen penting untuk membantu perusahaan menentukan waktu dan prioritas investasi keselamatan tambang secara tepat.
Perusahaan tambang tidak hanya punya tugas dan bertanggung jawab keselamatan pekerja di lapangan, tetapi juga butuh membangun sistem keselamatan yang terukur dan berkelanjutan. Untuk itu, perusahaan perlu menetapkan KPI sebagai indikator pengukuran kinerja agar dapat terus meningkatkan tingkat keselamatan di lingkungan kerja.
Macam-Macam KPI Keselamatan Pertambangan
KPI keselamatan pertambangan merupakan indikator kinerja utama yang digunakan perusahaan untuk mengukur, memantau, dan meningkatkan tingkat keselamatan kerja di seluruh area operasional tambang.
Perusahaan menetapkan KPI untuk memastikan seluruh aktivitas pertambangan berjalan sesuai standar dan peraturan keselamatan yang berlaku. Perusahaan juga merumuskan KPI keselamatan dalam bentuk target yang terukur dan realistis agar dapat mengevaluasi kinerja secara objektif.Berikut beberapa jenis KPI keselamatan pertambangan, antara lain:
1. KPI Keselamatan (Lagging Indicators)
KPI keselamatan kategori lagging indicators mengukur hasil akhir kinerja keselamatan yang telah terjadi dalam periode tertentu. Perusahaan menggunakan indikator ini untuk mengevaluasi jumlah dan tingkat keparahan kecelakaan kerja, sekaligus menilai efektivitas sistem pengendalian risiko yang telah diterapkan.
Perusahaan kemudian mengumpulkan dan mengolah data historis tersebut untuk mengidentifikasi tren insiden, menentukan area berisiko tinggi, serta menyusun strategi perbaikan yang lebih terarah dalam sistem keselamatan pertambangan.Berikut beberapa pengukuran yang dapat digunakan dalam kategori indikator ini:
LTIFR (Lost Time Injury Frequency Rate)
LTIFR (Lost Time Injury Frequency Rate) mengukur frekuensi kecelakaan kerja yang menyebabkan pekerja kehilangan waktu kerja dalam periode tertentu. Perusahaan menghitung LTIFR dengan membandingkan jumlah kasus kehilangan waktu kerja terhadap total jam kerja dalam periode yang sama. Perusahaan menggunakan pengukuran LTIFR untuk menilai tingkat frekuensi kecelakaan yang berdampak langsung terhadap produktivitas
AFR (Accident Frequency Rate)
AFR (Accident Frequency Rate) mengukur tingkat frekuensi kecelakaan kerja yang terjadi dalam periode tertentu tanpa membedakan tingkat keparahan cedera. Perusahaan menghitung AFR dengan membandingkan jumlah total kecelakaan terhadap total jam kerja dalam periode yang sama.Kemudian perusahaan memantau AFR untuk mengidentifikasi pola kejadian kecelakaan serta mengevaluasi efektivitas pengendalian risiko di area operasional.
ASR (Accident Severity Rate)
Perusahaan menggunakan ASR (Accident Severity Rate) untuk mengukur tingkat keparahan kecelakaan kerja berdasarkan jumlah hari kerja yang hilang akibat cedera. Perusahaan menghitung ASR dengan membandingkan total hari kerja yang hilang terhadap total jam kerja dalam periode tertentu.Indikator ini membantu perusahaan memahami dampak nyata kecelakaan terhadap operasional serta mendorong peningkatan upaya pencegahan dan pengendalian risiko secara lebih efektif.
Tingkat Insiden Keselamatan
Tingkat insiden keselamatan menunjukkan jumlah kejadian yang berkaitan dengan keselamatan kerja dalam periode tertentu. Perusahaan memantau tingkat insiden untuk mengidentifikasi tren risiko serta mengevaluasi kepatuhan terhadap prosedur kerja aman. Melalui pengukuran ini, perusahaan dapat mengambil langkah preventif secara lebih cepat dan efektif
Jumlah Kecelakaan Kerja
Jumlah kecelakaan kerja mencerminkan total kejadian kecelakaan yang terjadi dalam periode tertentu di area pertambangan. Perusahaan mencatat dan mengklasifikasikan setiap kejadian secara sistematis untuk memastikan transparansi dan akurasi pelaporan.Data tersebut membantu manajemen menilai kinerja keselamatan secara menyeluruh serta menentukan langkah perbaikan yang diperlukan untuk meningkatkan standar keselamatan kerja.
2. KPI Proaktif Keselamatan (Leading Indicators)
KPI proaktif keselamatan (leading indicators) mengukur upaya pencegahan yang perusahaan lakukan sebelum terjadi kecelakaan kerja. Perusahaan menggunakan indikator ini untuk berfokus pada aktivitas pengendalian risiko sehingga dapat mengurangi potensi bahaya sejak dini.
Melalui leading indicators, perusahaan mendorong keterlibatan aktif seluruh pekerja dalam menjaga keselamatan kerja. Pendekatan ini membantu mencegah insiden yang merugikan serta menciptakan lingkungan kerja yang aman dan terkendali.Berikut beberapa pengukuran yang dapat digunakan dalam indikator keselamatan pertambangan kategori ini:
Kepatuhan Pelatihan Operator
Perusahaan mengukur kepatuhan pelatihan operator dengan menghitung persentase tenaga kerja yang telah mengikuti dan lulus pelatihan sesuai standar kompetensi yang ditetapkan. Perusahaan memastikan seluruh operator memenuhi persyaratan tersebut untuk menjaga kualitas dan keselamatan operasional.Peningkatan kepatuhan pelatihan memperkuat kompetensi pekerja serta mengurangi potensi kesalahan operasional.
Partisipasi dalam Inspeksi/Audit K3
Perusahaan menilai partisipasi dalam inspeksi atau audit K3 berdasarkan keterlibatan aktif pekerja dan pengawas dalam kegiatan pemeriksaan keselamatan. Perusahaan mendorong seluruh pihak terkait untuk berperan aktif dalam setiap proses inspeksi.Tim melaksanakan inspeksi secara rutin untuk mengidentifikasi potensi bahaya serta memastikan kepatuhan terhadap prosedur dan standar keselamatan yang berlaku.
Rasio Temuan Bahaya/Tindakan Perbaikan
Perusahaan mengukur rasio temuan bahaya terhadap tindakan perbaikan untuk menilai kecepatan dan efektivitas respons terhadap potensi risiko. Perusahaan mencatat setiap temuan bahaya dan memantau pelaksanaan tindakan korektif hingga tuntas.Rasio yang baik mencerminkan komitmen dalam menyelesaikan masalah sebelum menimbulkan kecelakaan.
Kepatuhan Penggunaan APD
Perusahaan memantau kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) melalui observasi langsung dan evaluasi rutin di area kerja. Pengawas memastikan setiap pekerja menggunakan APD sesuai jenis pekerjaan dan potensi risiko yang dihadapi.Tingkat kepatuhan penggunaan APD yang tinggi melindungi pekerja dari potensi cedera serta mendukung terciptanya lingkungan kerja yang aman dan sesuai standar keselamatan.
3. KPI Kesehatan dan Lingkungan
Perusahaan pertambangan tidak hanya melindungi keselamatan pekerja, tetapi juga menjaga lingkungan sekitar. Oleh karena itu, KPI Kesehatan dan Lingkungan mengukur kinerja perusahaan dalam melindungi kesehatan tenaga kerja sekaligus menjaga kelestarian lingkungan di area pertambangan.
Perusahaan menetapkan indikator ini untuk memastikan setiap aktivitas operasional berjalan sesuai standar kesehatan kerja dan peraturan lingkungan yang berlaku. Indikator tersebut mendukung upaya perusahaan dalam mewujudkan pertambangan yang berkelanjutan. Berikut beberapa pengukuran yang dapat dilakukan dalam KPI Kesehatan dan Lingkungan:
Tingkat Kesehatan Pekerja
Perusahaan mengukur tingkat kesehatan pekerja melalui pemeriksaan kesehatan berkala, pemantauan paparan bahaya kerja, serta evaluasi kondisi fisik dan mental tenaga kerja untuk mendeteksi potensi gangguan kesehatan sejak dini. Perusahaan juga menganalisis hasil pemeriksaan tersebut untuk menentukan langkah pencegahan yang tepat. Pengawasan kesehatan pekerja secara konsisten membantu menjaga produktivitas karyawan
Kepatuhan Lingkungan
Perusahaan bertanggung jawab melindungi lingkungan sekitar dengan melakukan penilaian kepatuhan lingkungan secara berkala. Perusahaan menilai kesehatan ekosistem untuk mengendalikan dampak operasional terhadap lingkungan sekitar.Melalui pengawasan tersebut, perusahaan dapat menghindari sanksi administratif maupun konsekuensi hukum
Kemajuan Rehabilitasi Lahan
Aktivitas pertambangan menimbulkan dampak pada area yang luas sehingga perusahaan harus menjalankan tanggung jawab lingkungan secara serius. Oleh karena itu, perusahaan mengukur kemajuan rehabilitasi lahan dengan membandingkan luas area yang telah direklamasi terhadap total area yang terganggu akibat kegiatan tambang.Perusahaan melaksanakan rehabilitasi lahan sebagai wujud tanggung jawab dalam memulihkan fungsi ekosistem
4. Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP)
Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP) merupakan kerangka kerja yang perusahaan terapkan untuk mengelola risiko keselamatan dan kesehatan kerja secara terstruktur di seluruh kegiatan pertambangan. Perusahaan menggunakan SMKP untuk memastikan setiap proses operasional memenuhi standar keselamatan yang ditetapkan pemerintah serta kebijakan internal perusahaan.
Melalui penerapan sistem yang konsisten, perusahaan dapat mengidentifikasi bahaya, mengendalikan risiko, dan meningkatkan kinerja keselamatan secara berkelanjutan. Sistem ini juga membantu perusahaan membangun budaya keselamatan yang kuat di seluruh lini organisasi.Berikut beberapa pengukuran yang digunakan dalam indikator SMKP:
Nilai Audit Internal SMKP
Perusahaan mengukur nilai audit internal SMKP untuk menilai tingkat kesesuaian penerapan sistem terhadap standar dan prosedur yang berlaku. Tim auditor internal memeriksa dokumen, melakukan observasi lapangan, serta mewawancarai pekerja untuk mengidentifikasi ketidaksesuaian dan peluang perbaikan.Perusahaan menggunakan hasil audit tersebut untuk menyusun rencana aksi korektif, dan menindaklanjuti setiap temuan
Tingkat Kepemimpinan dan Komitmen (Elemen I & II SMKP)
Perusahaan menilai tingkat kepemimpinan dan komitmen sebagai bagian dari Elemen I dan II SMKP untuk memastikan manajemen menunjukkan peran aktif dalam penerapan keselamatan pertambangan. Kepemimpinan yang konsisten dan berkomitmen memperkuat budaya keselamatan, mendorong partisipasi seluruh pekerja, serta meningkatkan efektivitas sistem keselamatan pertambangan secara menyeluruh.
Bagaimana Sertifikasi POP Energy Academy dapat Memfasilitasi Hal Ini
Sertifikasi POP Energy Academy membekali Pengawas Operasional Pertama (POP) dengan kemampuan untuk menerapkan dan mengawal KPI keselamatan pertambangan secara efektif. Pada pelatihan Pengawas operasional pertama memberikan peserta pemahaman cara memantau kinerja keselamatan, mengidentifikasi potensi bahaya, dan memastikan operasional berjalan sesuai standar.
Program Pengawas operasional pertama juga mendorong POP membangun budaya keselamatan yang proaktif di lapangan, meningkatkan kepatuhan pekerja, serta memastikan setiap risiko segera ditangani.Dengan pembekalan yang praktis, sertifikasi ini membantu menjaga keselamatan kerja sekaligus mendukung kelancaran dan keberlanjutan operasional perusahaan tambang.
FAQ
Apa itu KPI keselamatan pertambangan?
KPI keselamatan pertambangan merupakan indikator kinerja utama yang perusahaan gunakan untuk mengukur, memantau, dan meningkatkan tingkat keselamatan kerja di seluruh area operasional tambang.
Mengapa KPI keselamatan penting bagi perusahaan tambang?
KPI membantu perusahaan mengevaluasi efektivitas sistem keselamatan, mengidentifikasi risiko, serta memastikan operasional berjalan sesuai standar dan peraturan yang berlaku.
Bagaimana KPI membantu pengambilan keputusan manajemen?
KPI menyediakan data terukur yang membantu manajemen menentukan prioritas perbaikan, strategi pencegahan, serta waktu yang tepat untuk investasi keselamatan.







