Penerapan keselamatan pertambangan memerlukan berbagai langkah strategis untuk menekan hingga mencegah kecelakaan kerja di lapangan. Salah satu langkah utama ialah melaksanakan audit keselamatan pertambangan secara konsisten dan terencana.
Audit yang dilakukan dengan baik membantu perusahaan mencapai target zero fatality. Sebagai contoh, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) berhasil mencatat nol korban meninggal akibat kecelakaan kerja selama tahun operasional 2025. Perusahaan tersebut mencapai hasil ini melalui pelaksanaan audit keselamatan secara berkala dan disiplin.
Melalui audit keselamatan pertambangan, perusahaan dapat mengidentifikasi bahaya secara sistematis serta mengendalikan risiko sebelum kegiatan operasional berlangsung. Audit juga memastikan sistem manajemen keselamatan berjalan efektif dan sesuai dengan prosedur serta peraturan keselamatan pertambangan yang berlaku.
Aspek-Aspek yang Harus Diaudit dari Keselamatan Pertambangan
Perusahaan harus melaksanakan audit keselamatan pertambangan dengan mencakup berbagai elemen krusial yang menentukan tingkat perlindungan terhadap pekerja, aset, dan lingkungan tambang. Audit ini memastikan seluruh aspek keselamatan berjalan sesuai standar dan mampu mencegah potensi kecelakaan.Berikut beberapa bagian dalam sistem keselamatan pertambangan yang perlu diaudit:
1. Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP)
Sebagai salah satu KPI utama dalam keselamatan tambang, Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP) menjadi bagian penting dalam audit keselamatan. SMKP membantu perusahaan mengelola dan mengendalikan risiko kegiatan pertambangan secara terstruktur, sistematis, dan berkelanjutan.
Perusahaan harus memastikan setiap proses operasional berjalan sesuai standar keselamatan yang berlaku serta mengintegrasikan pengendalian risiko ke dalam seluruh tahapan kerja, mulai dari eksplorasi hingga pascatambang. Melalui audit berkala, perusahaan dapat mengevaluasi kinerja sistem keselamatan pertambangan agar tetap relevan, efektif, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dalam pelaksanaan audit, perusahaan perlu memperhatikan beberapa aspek utama SMKP sebagai berikut:
Kebijakan K3 & SMKP
Manajemen perusahaan harus menetapkan kebijakan K3 yang jelas, tertulis, dan terkomunikasikan kepada seluruh pekerja serta kontraktor. Melalui audit, auditor memastikan perusahaan benar-benar menyosialisasikan kebijakan tersebut melalui pelatihan, pemasangan papan informasi, serta pelaksanaan briefing keselamatan harian.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan tambang menetapkan kebijakan zero accident, tetapi manajemen tidak menyediakan anggaran yang memadai untuk perawatan alat berat. Saat auditor melakukan pemeriksaan, mereka menemukan ketidaksesuaian antara komitmen tertulis dan implementasi di lapangan. Temuan ini menunjukkan bahwa perusahaan belum menjalankan kebijakan K3 secara konsisten dan menyeluruh.
Perencanaan
Perusahaan harus menyusun perencanaan keselamatan berdasarkan identifikasi bahaya dan penilaian risiko yang komprehensif. Perencanaan tersebut harus mencakup program pengendalian risiko, penetapan target kinerja keselamatan, serta rencana tanggap darurat yang telah diuji melalui simulasi rutin. Dengan perencanaan yang terstruktur, perusahaan dapat mengantisipasi perubahan kondisi operasional maupun lingkungan kerja.
Lalu contoh sebuah perusahaan tambang tidak memperbarui kajian geoteknik ketika intensitas musim hujan meningkat. Hasil audit menunjukkan bahwa perusahaan tidak menyesuaikan perencanaan keselamatan dengan perubahan kondisi lingkungan. Kelalaian ini berpotensi meningkatkan risiko longsor dan membahayakan pekerja di lapangan.
Organisasi & Personel
Perusahaan harus membentuk struktur organisasi keselamatan yang jelas dengan pembagian tugas dan tanggung jawab yang tegas. Perusahaan juga harus memastikan setiap pekerja menerima pelatihan keselamatan yang sesuai dengan jenis pekerjaan dan tingkat resikonya. Melalui pengaturan struktur dan peningkatan kompetensi, perusahaan dapat menjalankan sistem keselamatan secara efektif dan terkontrol.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan tambang tidak menempatkan pengawas yang bersertifikasi sesuai ketentuan. Saat auditor melakukan pemeriksaan, mereka menemukan bahwa perusahaan tidak memenuhi persyaratan kompetensi personil. Ketidaksesuaian ini berpotensi melemahkan pengawasan operasional dan meningkatkan risiko kecelakaan di area tambang.
Dokumentasi
Sebagai bagian penting dalam pengelolaan keselamatan pertambangan jangka panjang, perusahaan harus menjalankan dokumentasi SMKP secara konsisten dan terkontrol. Perusahaan wajib mengelola seluruh dokumen keselamatan secara sistematis, terdokumentasi dengan baik, dan mudah ditelusuri. Dokumentasi yang tertata rapi memungkinkan perusahaan membuktikan kepatuhan terhadap regulasi serta memantau tren kinerja keselamatan secara berkelanjutan.
Selanjutnya contoh, sebuah perusahaan tambang tidak mencatat hasil inspeksi alat pelindung diri (APD) secara konsisten. Ketika terjadi kecelakaan kerja, perusahaan kesulitan membuktikan bahwa mereka telah melaksanakan pengawasan rutin. Hasil audit menyimpulkan bahwa lemahnya sistem dokumentasi menghambat proses evaluasi dan perbaikan berkelanjutan
2. Manajemen Risiko (HIRADC)
Kegiatan pertambangan menuntut perusahaan mengelola potensi bahaya secara sistematis sebelum memulai pekerjaan. Perusahaan harus mengidentifikasi seluruh sumber bahaya, menilai tingkat risikonya, serta menetapkan langkah pengendalian yang tepat, termasuk prosedur penanganan keadaan darurat.
Perusahaan juga wajib memperbarui dokumen HIRADC secara berkala sesuai dengan perubahan metode kerja, penggunaan peralatan, maupun kondisi lingkungan. Selain itu, perusahaan perlu melibatkan seluruh pekerja dalam proses identifikasi bahaya agar hasil analisis benar-benar mencerminkan kondisi di lapangan. Langkah ini membantu perusahaan mencegah potensi kecelakaan sebelum risiko berkembang menjadi insiden nyata.Adapun aspek-aspek manajemen risiko yang perlu diperhatikan dalam audit meliputi:
Identifikasi Bahaya & Penilaian Risiko
Perusahaan harus mengidentifikasi seluruh potensi bahaya dari setiap aktivitas pertambangan, mulai dari peledakan, penggalian, pengangkutan material, hingga perawatan alat berat. Selain itu, perusahaan wajib mendokumentasikan hasil penilaian risiko secara jelas, sistematis, dan mudah dipahami oleh seluruh pekerja agar pengendalian dapat diterapkan secara konsisten di lapangan.
Sebagai contoh, sebuah tambang mengoperasikan dump truck pada jalur menurun tanpa melakukan analisis risiko terhadap sistem pengereman saat kondisi jalan basah. Ketika kecelakaan kerja terjadi, audit menemukan bahwa perusahaan tidak mengidentifikasi bahaya secara menyeluruh serta tidak memperbarui penilaian risiko sesuai kondisi aktual di lapangan.
Pengendalian Risiko
Setelah menilai risiko, perusahaan harus menetapkan langkah pengendalian berdasarkan hirarki pengendalian risiko serta memastikan setiap pengendalian diterapkan secara konsisten dan diawasi secara rutin.Perusahaan dapat mencegah risiko berkembang menjadi kecelakaan kerja.
Sebagai contoh, pada tambang bawah tanah, perusahaan mengidentifikasi risiko paparan gas berbahaya, tetapi hanya mengandalkan penggunaan alat pelindung diri tanpa memperbaiki sistem ventilasi. Akibatnya, beberapa pekerja mengalami gejala keracunan ringan. Hasil audit menunjukkan bahwa perusahaan tidak menerapkan pengendalian sesuai urutan prioritas dalam hierarki pengendalian, sehingga perlindungan yang diberikan tidak optimal dan masih menyisakan risiko signifikan.
3. Keselamatan Teknis Operasional
Perusahaan memikul tanggung jawab utama dalam melindungi keselamatan pekerja, salah satunya melalui pengendalian teknis operasional. Oleh karena itu, perusahaan harus mengendalikan seluruh aspek teknis kegiatan pertambangan secara ketat, terukur, dan sesuai standar yang berlaku. Perusahaan juga perlu melakukan pengawasan langsung di lapangan untuk mencegah potensi bahaya yang dapat menimbulkan kecelakaan.
Selain itu, perusahaan harus mengintegrasikan pengendalian teknis dengan sistem inspeksi rutin, pemeliharaan berkala, serta evaluasi kinerja operasional. Melalui langkah tersebut, perusahaan dapat memastikan kegiatan pertambangan tidak hanya berfokus pada pencapaian target produksi, tetapi juga menjaga keselamatan pekerja dan stabilitas lingkungan kerja.Adapun aspek-aspek yang perlu diaudit dalam keselamatan teknis operasional meliputi:
Kestabilan Lereng (Ground Control)
Perusahaan perlu merancang geometri lereng berdasarkan kajian geoteknik yang akurat dan terkini. Manajemen juga wajib memasang sistem pemantauan, seperti slope monitoring radar atau prism monitoring, untuk mendeteksi potensi pergerakan lereng dan risiko longsor sejak dini. Dengan pemantauan yang konsisten, perusahaan dapat mengambil tindakan korektif sebelum kondisi berkembang menjadi kegagalan lereng.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan tambang tetap melanjutkan aktivitas penggalian meskipun muncul retakan pada bagian atas lereng dan tidak memperbarui analisis kestabilan lereng. Keputusan tersebut meningkatkan potensi longsor dan membahayakan keselamatan pekerja di area tambang. Hasil audit menyimpulkan bahwa perusahaan lalai dalam melakukan pemantauan serta tidak merespons indikasi bahaya sesuai prinsip kehati-hatian dalam keselamatan pertambangan.
Operasional Alat Berat & Angkutan (Hauling)
Kegiatan pertambangan memerlukan alat berat dan kendaraan angkutan dalam setiap tahap operasional. Oleh karena itu, perusahaan harus memastikan seluruh alat berat dan kendaraan angkut berada dalam kondisi layak operasi dan berfungsi dengan baik. Perusahaan juga wajib melakukan pengawasan ketat agar operasional alat berat dan angkutan berjalan sesuai prosedur keselamatan yang berlaku.
Sebagai contoh, pada area hauling yang sempit, sebuah perusahaan tidak memasang rambu prioritas dan tidak mengatur lalu lintas dua arah secara memadai. Kondisi tersebut meningkatkan potensi tabrakan antar dump truck. Hasil audit menemukan bahwa perusahaan tidak menerapkan manajemen lalu lintas tambang secara efektif sehingga risiko kecelakaan tetap tinggi.
Pengeboran & Peledakan (Drilling & Blasting)
Perusahaan harus merencanakan kegiatan pengeboran dan peledakan berdasarkan desain teknis yang terukur, terdokumentasi, dan memenuhi standar keselamatan. Perusahaan juga wajib memastikan setiap perubahan desain melalui proses evaluasi teknis dan persetujuan resmi sebelum diterapkan di lapangan.
Lalu misal tim lapangan mengubah pola peledakan tanpa memperbarui perhitungan teknis. Perubahan tersebut menghasilkan getaran berlebih yang menimbulkan keretakan pada fasilitas di sekitar area tambang. Hasil audit menunjukkan bahwa perusahaan tidak mengendalikan perubahan metode kerja secara formal
Ventilasi & Gas Beracun (Tambang Bawah Tanah)
Pengendalian paparan gas beracun menjadi tantangan utama dalam keselamatan pertambangan, khususnya pada tambang bawah tanah. Oleh karena itu, perusahaan harus menyediakan sistem ventilasi yang mampu mengalirkan udara segar serta mengencerkan dan mengeluarkan gas berbahaya secara efektif. Perusahaan juga wajib memastikan seluruh sistem pemantauan gas berfungsi optimal dan terintegrasi dengan prosedur tanggap darurat.
Sebagai studi kasus, pada sebuah tambang bawah tanah, sensor gas menunjukkan peningkatan kadar metana. Namun, pengawas tidak segera menghentikan operasi dan tidak melakukan evakuasi sesuai prosedur. Akibatnya, beberapa pekerja mengalami gangguan pernapasan. Hasil audit menilai bahwa perusahaan tidak menindaklanjuti peringatan sistem secara cepat
Keselamatan Listrik & Mekanis
Perusahaan harus mengendalikan seluruh instalasi listrik dan peralatan mekanis untuk mencegah resiko sengatan listrik, korsleting, maupun kegagalan mekanis. Perusahaan juga wajib memastikan setiap pekerjaan perawatan mengikuti prosedur keselamatan yang ketat.
Sebagai contoh, seorang teknisi melakukan perbaikan pada conveyor tanpa mengisolasi sumber listrik secara menyeluruh. Mesin tiba-tiba aktif dan hampir menyebabkan cedera serius. Hasil audit nunjukkan lemahnya pengendalian energi berbahaya dalam operasional tambang.
4. Kesehatan Kerja dan Lingkungan Kerja
Perusahaan tidak hanya harus mengendalikan aspek teknis dalam keselamatan pertambangan, tetapi juga mengelola aspek nonteknis secara menyeluruh. Perusahaan wajib mengelola kesehatan kerja dan lingkungan kerja secara proaktif agar pekerja tetap produktif serta terlindungi dari penyakit akibat kerja.
Selain itu, perusahaan harus menyediakan fasilitas kerja yang aman dan nyaman, serta melakukan pengawasan untuk memastikan pekerja mematuhi batas paparan bahaya dan menggunakan alat pelindung diri sesuai kebutuhan. Melalui pengelolaan yang sistematis, perusahaan dapat menekan risiko gangguan kesehatan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.Adapun aspek kesehatan kerja dan lingkungan kerja yang perlu diperhatikan dalam audit keselamatan pertambangan meliputi:
Ergonomi & Higiene Industri
Beban kerja dalam kegiatan pertambangan tergolong tinggi dan menuntut ketahanan fisik pekerja. Oleh karena itu, perusahaan harus merancang sistem kerja yang memperhatikan kemampuan tubuh manusia serta menerapkan prinsip ergonomi secara konsisten. Perusahaan juga perlu melakukan upaya pencegahan penyakit akibat kerja sebelum gangguan kesehatan muncul akibat paparan lingkungan tambang.
Lalu contoh seorang operator alat berat mengeluhkan nyeri punggung kronis akibat kursi kabin yang tidak dapat disesuaikan.Pada audit dilakukan menunjukkan bahwa perusahaan belum mengintegrasikan prinsip ergonomi ke dalam pengelolaan kesehatan kerja secara sistematis.
Pengelolaan Kelelahan (Fatigue Management)
Perusahaan harus mengatur jam kerja, sistem shift, dan waktu istirahat secara disiplin untuk mencegah kelelahan berlebih pada pekerja. Perusahaan juga wajib memantau dan mengevaluasi tanda-tanda kelelahan, seperti penurunan konsentrasi, reaksi yang melambat, serta meningkatnya kesalahan operasional. Dengan pengelolaan kelelahan yang baik, perusahaan dapat menekan risiko kecelakaan akibat faktor manusia.
Sebagai contoh, pada sebuah operasi tambang dengan sistem shift yang panjang, seorang operator dump truck tertidur sesaat saat mengemudi di akhir shift malam sehingga menyebabkan kecelakaan kerja.Hasil audit menunjukkan lemahnya pengendalian faktor risiko kelelahan dalam manajemen kesehatan kerja.
5. Tanggap Darurat dan Kebakaran
Perusahaan pertambangan tidak hanya harus menyiapkan langkah pencegahan, tetapi juga membangun sistem tanggap darurat yang mampu merespons kecelakaan, kebakaran, ledakan, longsor, maupun insiden bahan berbahaya secara cepat dan terkoordinasi. Sistem ini harus dirancang secara terstruktur dan diuji secara berkala agar siap digunakan dalam kondisi darurat.
Lalu perusahaan juga wajib membentuk dan melatih tim tanggap darurat yang kompeten serta menetapkan struktur komando yang jelas. Dengan struktur dan koordinasi yang tegas, perusahaan dapat meminimalkan dampak kerugian, mempercepat proses evakuasi, dan melindungi keselamatan pekerja secara maksimal.Adapun aspek tanggap darurat dan kebakaran yang perlu diperhatikan dalam audit keselamatan meliputi:
Prosedur Tanggap Darurat
Dalam menjalankan sistem tanggap darurat, perusahaan harus menyusun prosedur yang jelas dan terperinci untuk setiap potensi insiden. Perusahaan juga wajib memastikan seluruh pekerja menerima pelatihan serta memahami langkah evakuasi dengan baik agar dapat bertindak cepat tanpa kebingungan saat keadaan darurat terjadi.
Sebagai studi kasus, pada sebuah tambang terbuka terjadi kebakaran di area workshop akibat korsleting listrik. Pekerja sempat panik karena tidak mengetahui titik kumpul yang benar, sementara jalur evakuasi tidak ditandai secara jelas.Audit menunjukkan lemahnya kesiapan operasional dalam menghadapi kondisi darurat
Peralatan Darurat
Mencegah insiden kecelakaan kerja berkembang menjadi lebih besar, perusahaan harus menyediakan peralatan darurat yang memadai dan selalu dalam kondisi siap pakai. Perusahaan juga wajib melakukan perawatan serta inspeksi berkala secara konsisten untuk memastikan seluruh peralatan darurat memenuhi standar dan berfungsi dengan baik saat dibutuhkan.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan tambang mengalami kebakaran. Dalam kondisi darurat tersebut, alat pemadam api ringan (APAR) tidak berfungsi sehingga memperparah dampak kebakaran.Audit menemukan lemahnya pengendalian kesiapsiagaan darurat yang seharusnya menjadi bagian penting dalam sistem keselamatan pertambangan.
6. Investigasi Kecelakaan dan Tindak Lanjut
Insiden kecelakaan kerja tidak hanya menimbulkan kerugian, tetapi juga menjadi bahan evaluasi penting bagi perusahaan untuk memperkuat sistem keselamatan pertambangan. Oleh karena itu, perusahaan harus menangani setiap kecelakaan kerja secara sistematis, objektif, dan terdokumentasi dengan baik.
Perusahaan tidak boleh berhenti pada tahap pencatatan insiden semata. Perusahaan harus melakukan investigasi menyeluruh untuk mengidentifikasi akar penyebab (root cause) dan memastikan tindakan perbaikan benar-benar menyasar sumber masalah.Adapun aspek yang perlu diperhatikan dalam proses investigasi dan evaluasi insiden meliputi:
Laporan Kecelakaan
Perusahaan harus menyusun laporan kecelakaan kerja secara lengkap, jelas, dan tepat waktu. Manajemen juga wajib melaporkan setiap kejadian sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku serta menyampaikan informasi secara akurat kepada pihak terkait. Pelaporan yang transparan dan tepat waktu memungkinkan perusahaan melakukan evaluasi serta mencegah kejadian serupa terulang.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan tambang tidak melaporkan insiden near miss ketika material jatuh dari bucket excavator dan hampir mengenai pekerja. Manajemen menganggap kejadian tersebut tidak perlu dicatat. Namun, tidak lama kemudian, insiden serupa benar-benar menyebabkan kecelakaan kerja. Hasil audit menyimpulkan bahwa perusahaan gagal memanfaatkan laporan near miss sebagai sistem peringatan dini
Investigasi & Analisis Akar Masalah
Dalam menghadapi insiden, perusahaan harus melakukan investigasi dengan metode yang sistematis, seperti analisis sebab-akibat atau pendekatan root cause analysis. Perusahaan tidak boleh menarik kesimpulan secara terburu-buru, tetapi harus menggali faktor mendasar yang berkontribusi terhadap kejadian. Melalui investigasi yang menyeluruh, perusahaan dapat mengidentifikasi kelemahan dalam proses kerja, pelatihan, maupun pengendalian risiko.
Selanjutnya misal seorang operator mengalami cedera tangan saat melakukan perawatan conveyor. Investigasi awal langsung menyalahkan kelalaian operator tanpa menelusuri penyebab mendasar.hasil audit perusahaan kehilangan kesempatan untuk memperbaiki sistem kerja dan mencegah kejadian serupa di masa depan.
Bagaimana Sertifikasi POP Energy Academy dapat Memfasilitasi Hal Ini
Sertifikasi POP Energy Academy membekali Pengawas Operasional Pertama dengan kompetensi yang mendukung kesiapan audit keselamatan pertambangan secara menyeluruh. Program ini membantu peserta memahami penerapan SMKP, HIRADC, pengawasan teknis operasional, hingga investigasi kecelakaan secara sistematis.
Saatnya meningkatkan kapasitas pengawas agar lebih siap menghadapi tantangan operasional dan audit keselamatan. Bergabung dalam Sertifikasi POP Energy Academy dapat menjadi langkah strategis untuk memperkuat kompetensi, meningkatkan kredibilitas, dan memastikan kegiatan pertambangan berjalan aman serta berkelanjutan.
FAQ
Apa yang dimaksud dengan audit keselamatan pertambangan?
Audit keselamatan pertambangan merupakan proses evaluasi sistematis untuk menilai efektivitas penerapan sistem keselamatan di perusahaan tambang. Audit bertujuan memastikan seluruh kebijakan, prosedur, dan praktik operasional berjalan sesuai standar serta mampu mencegah kecelakaan kerja.
Bagaimana audit menilai efektivitas SMKP?
Auditor menilai kesesuaian kebijakan, struktur organisasi, kompetensi personel, dokumentasi, serta implementasi di lapangan. Audit juga memeriksa konsistensi antara komitmen tertulis dan praktik nyata.
Bagaimana audit berkontribusi terhadap budaya keselamatan?
Audit yang objektif dan berkelanjutan mendorong transparansi, akuntabilitas, serta perbaikan terus-menerus. Proses ini membantu membangun budaya keselamatan yang proaktif, bukan sekadar reaktif terhadap insiden.







