HIRADC Adalah: Pengertian, Bedanya dengan HIRARC, Langkah, dan Contoh Tabelnya

Bayangkan dua dump truck bertabrakan di jalan hauling yang berdebu. Saat diinvestigasi, ternyata bahaya jarak pandang di jalur itu tidak pernah tercatat, sehingga penyiraman jalan dan batas kecepatan tidak pernah dijadwalkan. Di sinilah peran HIRADC, yaitu memastikan bahaya seperti ini sudah dikenali dan dikendalikan sebelum kecelakaan terjadi.

Artikel ini membahas pengertian HIRADC, perbedaannya dengan HIRARC, HIRA, dan IBPR, langkah penyusunan, matriks risiko, hingga contoh tabelnya.

Apa Itu HIRADC?

HIRADC adalah singkatan dari Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control, yaitu metode terstruktur untuk mengidentifikasi bahaya, menilai risiko, dan menentukan langkah pengendalian K3.

Unsur pertama yaitu Hazard Identification berfokus pada kegiatan menemukan seluruh sumber potensi bahaya di area kerja. Unsur kedua yaitu Risk Assessment menilai besarnya tingkat kemungkinan dan dampak keparahan dari bahaya tersebut. Sementara itu, unsur ketiga yaitu Determining Control menetapkan tindakan pencegahan agar risiko dapat ditekan hingga batas yang dapat diterima.

Fungsi HIRADC dalam Sistem Manajemen K3

Dalam ISO 45001, proses ini menjadi bagian dari klausul perencanaan, yaitu identifikasi bahaya serta penilaian risiko dan peluang. Di Indonesia, PP 50/2012 tentang SMK3 juga mensyaratkan perencanaan K3 yang didasarkan pada identifikasi potensi bahaya, penilaian, dan pengendalian risiko.

Khusus pada sektor pertambangan mineral dan batubara, Kepmen ESDM 1827 K/30/MEM/2018 Lampiran IV menempatkan manajemen risiko, termasuk identifikasi bahaya dan penilaian risiko, sebagai bagian dari elemen perencanaan SMKP Minerba. Karena itu, dokumen HIRADC yang hidup dan diperbarui menjadi salah satu bukti utama saat audit SMK3 maupun audit SMKP. Pembahasan SMKP selengkapnya bisa Anda baca di artikel SMKP Minerba.

Perbedaan HIRADC, HIRARC, HIRA, dan IBPR

Praktisi keselamatan sering kali menemukan berbagai istilah manajemen risiko yang berbeda di berbagai sektor industri dan regulasi. Meskipun memiliki perbedaan istilah, seluruh metode ini pada dasarnya menjalankan prinsip kerja yang sama di lapangan. Perbedaannya lebih pada asal istilah dan cakupan tahapannya, seperti tabel berikut.

Istilah Kepanjangan Asal / Konteks Penggunaan Perbedaan Cakupan
HIRADC Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control Berasal dari OHSAS 18001 dan masih banyak dipakai di industri, termasuk perusahaan yang kini menerapkan ISO 45001 Menekankan penentuan pengendalian berdasarkan hierarki pengendalian
HIRARC Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control Populer melalui pedoman HIRARC dari DOSH Malaysia Berfokus pada pengontrolan risiko secara umum
HIRA Hazard Identification and Risk Assessment Istilah umum di berbagai sektor, seperti manufaktur dan konstruksi Berfokus pada dua tahapan awal, yaitu identifikasi dan penilaian
IBPR Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko Istilah dalam bahasa Indonesia yang lazim dipakai di SMK3 dan SMKP Istilah Bahasa Indonesia untuk metode HIRA/HIRADC

Langkah-Langkah Menyusun HIRADC

Penyusunan HIRADC wajib dilakukan secara sistematis guna merekam seluruh potensi bahaya di tempat kerja. Pengawas lapangan harus mengikuti setiap alur proses agar tidak ada sumber bahaya yang terlewat. Berikut tujuh langkahnya.

1. Daftar Aktivitas & Kondisinya

Pengawas menginventarisasi seluruh rangkaian kegiatan kerja dan membaginya ke dalam tiga kondisi operasional yang berbeda. Kondisi tersebut mencakup aktivitas rutin harian, aktivitas non-rutin seperti perawatan, serta kondisi darurat yang mungkin terjadi. Pembagian kategori ini memastikan bahwa seluruh variasi pekerjaan di lapangan terdata dengan rapi.

2. Identifikasi Bahaya

Pengawas menganalisis setiap tahapan pekerjaan guna menemukan potensi sumber bahaya yang dapat memicu cedera atau kerusakan. Proses ini mencermati kondisi lingkungan, kelayakan alat mekanis, sifat bahan kimia, serta perilaku manusia di lokasi. Cara paling efektif adalah berjalan langsung ke area kerja dan bertanya kepada pekerja yang melakukannya setiap hari.

3. Identifikasi Risiko

Pengawas menentukan jenis kecelakaan atau dampak kesehatan yang dapat timbul akibat paparan bahaya yang telah ditemukan. Sebagai contoh, bahaya ceceran oli di lantai kerja memiliki risiko menyebabkan pekerja terpeleset dan mengalami patah tulang. Penjabaran risiko yang spesifik membantu pengawas memahami dampak riil dari setiap bahaya.

4. Penilaian Risiko Awal

Pengawas menghitung tingkat risiko awal berdasarkan pengendalian yang sudah ada, sebelum pengendalian tambahan diterapkan. Penilaian dilakukan dengan mengalikan nilai tingkat kemungkinan (likelihood) dan nilai tingkat keparahan (severity) pada matriks. Hasil perkalian tersebut menentukan kategori tingkat risiko awal dari pekerjaan tersebut.

5. Penentuan Pengendalian

Pengawas merancang langkah tindakan pencegahan dengan mengacu pada prinsip hierarki pengendalian K3. Langkah pengendalian diprioritaskan mulai dari eliminasi bahaya hingga penggunaan alat pelindung diri bagi pekerja. Penentuan langkah pencegahan yang tepat bertujuan untuk menurunkan tingkat risiko ke batas yang dapat diterima.

6. Penilaian Risiko Sisa

Pengawas melakukan penghitungan ulang terhadap nilai kemungkinan dan keparahan setelah langkah pengendalian direncanakan untuk diterapkan. Penilaian risiko sisa (residual risk) ini bertujuan memastikan bahwa nilai risiko akhir sudah berada pada kategori yang dapat diterima. Jika nilai sisa masih tinggi, pengawas wajib menambah langkah pengendalian lain.

7. Dokumentasi & Tinjauan Berkala

Pengawas membukukan seluruh hasil analisis ke dalam format tabel resmi dan mengesahkannya bersama pimpinan perusahaan. Dokumen ini wajib ditinjau ulang secara berkala guna menyesuaikan dengan perubahan kondisi di area kerja. Pastikan juga isinya disosialisasikan ke pekerja, misalnya lewat P5M, agar pengendaliannya benar-benar dijalankan.

Jenis Bahaya yang Perlu Diidentifikasi

Proses identifikasi bahaya harus mencakup seluruh kategori ancaman yang berpotensi mencederai pekerja di lingkungan operasional. Tabel berikut berisi kategori bahaya beserta contoh yang sering ditemukan di area pertambangan.

Kategori Bahaya Definisi Singkat Contoh Nyata di Area Tambang
Fisik Bahaya dari energi lingkungan sekitar Kebisingan mesin crusher, paparan debu hauling
Kimia Bahaya dari bahan kimia berbahaya Gas beracun seperti H₂S di area tertutup, tumpahan solar
Biologi Bahaya dari makhluk hidup dan mikroba Gigitan ular di area land clearing, infeksi bakteri di instalasi pengolahan air limbah
Ergonomi Bahaya dari ketidaksesuaian posisi kerja Duduk terlalu lama di kabin excavator, angkat beban
Psikososial Bahaya dari lingkungan sosial kerja Kejenuhan shift malam, tingkat stres operasional
Mekanik Bahaya dari bagian mesin berputar Sisi tajam blade dozer, jepitan sabuk conveyor
Listrik Bahaya dari arus dan tegangan listrik Kabel terkelupas di workshop, paparan panel substation

Cara Menilai Risiko dengan Matriks Risiko

Penilaian tingkat risiko dilakukan menggunakan matriks 5×5 yang membandingkan parameter kemungkinan dan keparahan. Parameter kemungkinan (likelihood) mengukur seberapa sering suatu insiden dapat terjadi dalam kurun waktu operasional tertentu.

Sementara itu, parameter keparahan (severity) mengukur besarnya dampak cedera, kerusakan aset, atau kerugian finansial yang ditimbulkan. Skala dan batas kategori di bawah ini adalah contoh. Dalam praktiknya, matriks yang dipakai harus mengikuti standar yang ditetapkan perusahaan masing-masing.

Tabel berikut menjelaskan definisi skala nilai kemungkinan dan keparahan.

Nilai Skala Kriteria Kemungkinan (Likelihood) Kriteria Keparahan (Severity)
1 Sangat Jarang (Hampir tidak pernah terjadi) Sangat Ringan (P3K, tidak ada lost time)
2 Jarang (Pernah terjadi sekali dalam setahun) Ringan (Perawatan medis, hilangnya hari kerja)
3 Sedang (Dapat terjadi beberapa kali setahun) Sedang (Cedera berat, cacat permanen parsial)
4 Sering (Sangat mungkin terjadi setiap bulan) Berat (Kematian tunggal, kerusakan alat berat)
5 Sangat Sering (Hampir pasti terjadi setiap minggu) Sangat Berat (Kematian massal, kerusakan total)

Di sektor tambang, kriteria keparahan sebaiknya diselaraskan dengan kategori cedera dalam Kepmen 1827, yaitu cedera ringan, cedera berat, dan mati, agar hasil HIRADC konsisten dengan pencatatan kecelakaan tambang.

Hasil perkalian skor kemungkinan dan keparahan menghasilkan nilai 1 sampai 25, yang kemudian dibaca pada matriks berwarna berikut.

Kemungkinan ↓ / Keparahan → 1 2 3 4 5
5 5 10 15 20 25
4 4 8 12 16 20
3 3 6 9 12 15
2 2 4 6 8 10
1 1 2 3 4 5

Skala matriks dikelompokkan ke dalam empat tingkatan kategori risiko beserta tindakan pengendalian yang wajib diambil, seperti tabel berikut.

Tingkat risiko Skor Warna Tindakan
Rendah 1 sampai 3 Hijau Risiko dapat diterima, lakukan pemantauan prosedur rutin secara berkala
Sedang 4 sampai 8 Kuning Perlu tindakan pengendalian tambahan dengan menetapkan penanggung jawab area
Tinggi 9 sampai 12 Oranye Wajib ada tindakan perbaikan segera sebelum pekerjaan dimulai
Ekstrem 15 sampai 25 Merah Pekerjaan dilarang dilakukan sampai tingkat risiko diturunkan

Menentukan Pengendalian dengan Hierarki Pengendalian

Penetapan tindakan perbaikan wajib mengacu pada urutan hierarki pengendalian K3 untuk memastikan efektivitas pencegahan kecelakaan. Hierarki ini menempatkan solusi teknis sebagai prioritas utama sebelum mengandalkan kedisiplinan dan APD pekerja. Berikut lima tingkatan hierarki pengendalian beserta contoh penerapannya di lingkungan tambang.

Tingkat Prinsip Contoh di tambang
Eliminasi Menghilangkan sumber bahaya secara total Menutup jalur hauling yang retak dan memindahkan lalu lintas ke jalur lain
Substitusi Mengganti bahan atau alat dengan yang lebih aman Mengganti pelarut berbahaya di workshop dengan pembersih berbasis air
Rekayasa teknik Modifikasi fisik alat atau lingkungan Memasang tanggul pengaman, peredam pada mesin crusher, atau pelindung (guarding) conveyor
Administratif Pengaturan prosedur kerja dan waktu SOP, izin kerja, pembatasan kecepatan, pengaturan jam shift, dan pemasangan rambu
APD Perlindungan terakhir pada tubuh pekerja Helm, safety boots, earplug, dan respirator

Contoh Tabel HIRADC

Penyajian HIRADC dituangkan ke dalam format tabel yang memuat seluruh informasi analisis bahaya. Format ini memudahkan pengawas dalam memantau efektivitas pengendalian serta penanggung jawabnya di lapangan. Berikut dua contoh HIRADC pada aktivitas pertambangan dan kegiatan bengkel umum. Angka di dalamnya bersifat ilustrasi.

1. Contoh Aktivitas Tambang: Pengangkutan Batubara di Jalan Hauling

Aktivitas pengangkutan batubara menggunakan dump truck di jalan hauling memiliki tingkat risiko kecelakaan tinggi. Tabel berikut merinci identifikasi bahaya, penilaian risiko, hingga tindakan pencegahan yang ditetapkan.

Aktivitas Kerja Kondisi Bahaya Risiko Kemungkinan Keparahan Tingkat Risiko Awal Pengendalian Risiko Sisa PIC
Hauling Batubara Rutin Jalan berdebu & jarak pandang terbatas Tabrakan antar-unit dump truck 4 4 16 (Ekstrem) Penyiraman jalan terjadwal, pembatasan kecepatan, lampu kabut (fog lamp), kontak radio sebelum menyalip K2 × S4 = 8 (Sedang) Supervisor Hauling

2. Contoh Aktivitas Umum: Pengelasan Konstruksi di Workshop

Aktivitas pengelasan kerangka besi di workshop memiliki potensi bahaya percikan api dan radiasi sinar las. Tabel berikut menyajikan analisis bahaya beserta langkah pengendalian yang wajib diterapkan oleh teknisi.

Aktivitas Kerja Kondisi Bahaya Risiko Kemungkinan Keparahan Tingkat Risiko Awal Pengendalian Risiko Sisa PIC
Pengelasan Besi Rutin Percikan api & radiasi sinar las Kebakaran & iritasi mata (arc eye) 3 4 12 (Tinggi) Izin kerja panas (hot work permit), area bebas bahan mudah terbakar, tirai las, APAR siaga, kedok las K1 × S4 = 4 (Sedang) Kepala Workshop

Perhatikan bahwa pada kedua contoh, pengendalian lebih banyak menurunkan nilai kemungkinan, bukan keparahan. Ini wajar, karena dampak terburuk dari tabrakan atau kebakaran tetap sama, yang berubah adalah peluang terjadinya.

Kapan HIRADC Harus Ditinjau Ulang?

HIRADC merupakan dokumen dinamis yang wajib diperbarui mengikuti perubahan di tempat kerja. Berikut lima kondisi yang mengharuskan pengawas segera melakukan tinjauan ulang.

1. Perubahan Proses atau Peralatan Baru

Penambahan mesin baru atau perubahan metode kerja dapat memicu timbulnya potensi bahaya yang belum teridentifikasi. Pengawas wajib melakukan analisis risiko ulang sebelum peralatan baru tersebut diizinkan beroperasi. Tinjauan ini memastikan bahwa langkah pengendalian baru telah disiapkan sejak awal operasional.

2. Terjadinya Insiden Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja atau kejadian near miss menjadi bukti bahwa langkah pengendalian yang ada saat ini belum efektif. Pengawas wajib merevisi analisis bahaya berdasarkan hasil investigasi agar insiden yang sama tidak berulang di masa depan.

3. Adanya Temuan Hasil Inspeksi dan Audit

Temuan ketidaksesuaian dari hasil inspeksi K3 harian atau audit menandakan adanya celah bahaya yang terlewat. Pengawas harus segera memperbarui HIRADC guna memasukkan masukan perbaikan dari tim auditor.

4. Adanya Perubahan Regulasi Pemerintah

Penerbitan aturan baru dari Pemerintah mengenai K3 mengharuskan perusahaan menyesuaikan standar operasionalnya. Pengawas wajib meninjau ulang parameter dokumen agar selalu selaras dengan aturan yang berlaku.

5. Tinjauan Berkala Tahunan

Meskipun tidak terjadi perubahan atau insiden, HIRADC sebaiknya dievaluasi secara rutin, umumnya minimal satu kali dalam setahun sesuai prosedur perusahaan. Tinjauan berkala ini berfungsi menilai konsistensi penerapan pengendalian oleh para pekerja di lapangan.

Kesalahan Umum dalam Menyusun HIRADC

Penyusunan HIRADC sering kali gagal mencapai tujuannya akibat pendekatan administratif yang tidak tepat. Berikut lima kesalahan yang perlu dihindari.

1. Menyalin Dokumen dari Tempat Lain

Mengisi tabel risiko dengan cara menyalin dokumen milik perusahaan lain tanpa menyesuaikan kondisi riil sangat membahayakan. Setiap area kerja memiliki karakteristik alur proses dan potensi bahaya yang berbeda satu sama lain. Dokumen salinan menyebabkan langkah pengendalian yang dirancang menjadi tidak relevan di lapangan.

2. Menuliskan Bahaya Terlalu Umum

Menuliskan istilah bahaya yang terlalu luas seperti “bahaya alat berat” tanpa merinci sumbernya menyebabkan analisis menjadi dangkal. Bahaya harus ditulis secara spesifik, misalnya “sisi berputar pada sabuk conveyor yang tidak berpelindung”. Penulisan yang rinci memudahkan penentuan tindakan pencegahan yang tepat sasaran.

3. Tidak Melibatkan Pekerja Lapangan

Menyusun dokumen risiko hanya dari dalam ruangan kantor tanpa melibatkan pekerja lapangan merupakan tindakan yang keliru. Pekerja lapangan merupakan pihak yang paling memahami kondisi bahaya riil yang mereka hadapi setiap hari.

4. Pengendalian Hanya Mengandalkan APD

Sangat sering ditemukan dokumen risiko yang langsung menetapkan APD sebagai satu-satunya langkah pengendalian. Padahal, APD merupakan lapisan perlindungan terakhir yang memiliki tingkat efektivitas paling rendah dalam hierarki. Pengawas perlu mengutamakan eliminasi, substitusi, dan rekayasa teknik sebelum mengandalkan APD.

5. Dokumen Tidak Pernah Diperbarui

Membiarkan dokumen risiko menumpuk di lemari arsip tanpa pernah diperbarui menjadikan Sistem Manajemen K3 tidak berjalan. Dokumen yang tidak pernah dievaluasi akan kehilangan relevansinya seiring perubahan teknologi dan proses kerja.

Kesimpulan

HIRADC adalah alat dasar yang wajib dikuasai setiap pengawas operasional, karena dari sinilah seluruh program pengendalian risiko di lapangan disusun. Pemetaan bahaya yang cermat dan penerapan hierarki pengendalian yang tepat melindungi pekerja serta menjaga kelancaran produksi.

Bagi Anda yang ingin meningkatkan kompetensi kepemimpinan keselamatan pertambangan, ikuti Pelatihan & Sertifikasi POP di Energy Academy. Identifikasi bahaya dan pengendalian risiko menjadi salah satu unit kompetensi yang dilatih dan diujikan di program ini. Untuk level seksi, penerapan HIRADC juga dibahas lebih dalam di Training POM.

FAQ

Penulis